SHARE

Citayam, Info Berita Satu – Tidak mungkin Allah memberikan masalah jika tidak sesuai kemampuan hambanya,” Dan segala sesuatunya dimulai dan diakhiri dengan keikhlasan tutur Pemilik Pengembang Green Citayam City Ahmad Hidayat Assegaf ketika ditemui awak media di Citayam, Sabtu (24/2/18).

Dikisahkan Ahmad, ia pernah menjalankan program kemanusiaan di beberapa daerah di Indonesia yaitu Jakarta, Padang, dan Aceh. NGO atau LSM dari luar negeri langsung mempercayakannya untuk membangun kota-kota besar yang terkena bencana tersebut. Ahmad mendirikan 41 sekolah pasca gempa Padang berlangsung, ia pun mengaku menjadi sebuah kepuasan batin tersendiri dapat membantu sesama dengan ilmu yang dimilikinya.

Ahmad, pria berdarah Sumatra ini lahir pada 7 Agustus 1977. Terlahir sebagai anak yatim membuatnya menjadi pribadi yang mandiri sekaligus selalu bersyukur. Kondisi tersebut yang membuatnya dapat bertahan dan sukses menjadi Direktur Utama sekaligus pemilik Green Citayam City.

Masuk ke ranah proyek perumahan pertama tepatnya di Bojong Baru Indah ia menjabat sebagai Humas, lalu merambah sebagai logistik, pelaksana hingga project manager. Ahmad mengaku selama menjadi manager selalu mengalami masalah serta berbagai kendala namun dari situ ia belajar dan mulai mengerti segala hal. Setelah itu, ia pun akhirnya menjadi kontraktor.

Dengan membeli tanah beserta perusahannya, Ahmad merintis bisnis perumahan bersubsidi ini. Nama Green Construction City sendiri diambil dari nama perumahan Green Citayam City yang telah dikenal oleh halayak ramai. Sesuai dengan namanya, konsep yang diusung pun konstruksi kota hijau dimana rumah dibangun bersamaan dengan alam yang berkembang agar seimbang.

Berharap mampu membangun secara nasional perumahan murah bersubsidi,” tandasnya yang menjadi visi perusahaan. Konsumen dari kalangan kementrian, TNI dan Polri menjadi prioritas sebagai bentuk apresiasi kepada program Presiden Joko Widodo yang disebut Nawa Cita. /bulan tersebut, sebab target pasar mengarah kepada masyarakat dengan ekonomi menengah kebawah. Sehingga misi seluruh rakyat Indonesia memiliki rumah dapat terwujud.

Rencana untuk 2018, 4800 rumah dibangun dan persiapan untuk membangun di kota-kota besar lain pun sedang dicanangkan seperti Solo, Jogjakarta & Palembang. Fasilitas yang lengkap seperti pesantren, SPBU, sekolah, rumah sakit, sport center, dan mini stadium dibuat. Bahkan aula untuk RT dan RW mengadakan pertemuan pun didirikan juga. Tujuannya agar semua masyarakat baik di komplek maupun di kampung dapat bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik.

Suami dari Dewi Hermawati ini menuturkan pesantren yang bernama Yayasan Bani Hasyim merupakan inti dari proyeknya tersebut. “Hasil dari proyek ini 30%-nya menjadi milik pesantren. esantren tersebut gratis dan tidak butuh donatur,” jelasnya. Jika ia telah wafat saham untuk pesantren dinaikkan menjadi 49% dan pengurus pun dipilih secara aklamasi.

Pesantren tersebut diperuntukan oleh anak yatim dan kaum dhuafa. Ahmad tahu betul rasanya menjadi anak yatim sedari kecil, baginya semua hak anak yatim sama namun yang membedakan adalah jalan dan kesempatan. Maka dari itu, ia ingin membuka jalan dan kesempatan tersebut untuk anak-anak yang lain menggapai impiannya salah satunya dengan mendirikan pesantren tersebut.

Ahmad mengatakan strategi yang dipakainya adalah komitmen dan kualitas yang terbaik yang dijualnya. Hingga detik ini ia tidak terlalu menggencarkan pemasaran malah konsumen yng berdatangan sendiri. “Hanya GCC yang memakai dinding double, kusen alumunium, atap baja ringan, plafon gypsum dan sistem drainase yang cukup baik serta jalan utama 12.5 meter dan jalan lingkungan 7.5 meter. Walaupun rumah subsidi namun dapat bersaing dengan rumah komersil,” jelas Ahmad.

Saya bukan bekerja, saya berkarya. Tidak ada kata lelah,” tandasnya. Baginya, komitmen untuk mensejahterakan orang banyak jauh lebih penting begitupula dikerjakan dengan hati yang tulus maka tidak menjadi beban.Kesuksesan tidak datang tanpa kerja keras namun dukungan pun penting sebagai motivasi menuju kesuksesan.

Ahmad mempunyai keinginan agar PT Green Construction City ini tidak boleh dijual dan terjual. Karena setengah saham jika ia wafat diberikan ke pesantren dan sisanya dibagikan kepada orang yang mampu menjalankan perusahaan ini kelak. “Semua adalah syariat, saya ini gak ada apa-apanya.

Saya hanya menjalankan apa yang dititipkan oleh Allah,” jelas pengusaha yang ingin pemerintah mendukung semua usaha agar program pemerintah tercapai pula. Banyak yang bertanya apa yang menjadi prinsip kesuksesan Ahmad yang telah menpatkan empat penghargaan nasional ini, ia hanya berkata “Barakallah, keberkahan Allah yang saya cari tidak ada yang lain tutupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here